Garut, Jawa Barat — Sukacita pesta rakyat pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berubah menjadi duka mendalam. Tiga orang dilaporkan tewas dalam insiden desak-desakan massa yang terjadi pada Jumat siang (19 Juli 2025) di halaman Pendopo Kabupaten Garut, Jawa Barat, ketika ribuan warga datang untuk mencicipi makanan gratis yang dijanjikan sebagai bagian dari acara syukuran.
Korban meninggal terdiri dari seorang anak berusia 8 tahun, seorang ibu-ibu warga sipil, dan satu anggota polisi yang tengah bertugas di gerbang barat lokasi acara. Belasan warga lainnya mengalami luka-luka dan pingsan akibat terinjak dan terhimpit dalam kerumunan besar.
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian pesta pernikahan antara Maul Akbar—putra sulung Dedi Mulyadi—dengan Puti Kalina, yang merupakan Wakil Bupati Garut. Pesta rakyat yang menjanjikan sajian beragam menu khas dari kabupaten/kota di Jawa Barat ini disebarluaskan melalui media sosial dan menarik ribuan warga dari berbagai daerah.
Tidak Ada Sistem Antrean yang Jelas
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa tidak ada sistem antrean atau distribusi kupon yang memadai untuk mengatur arus masuk warga. Warga hanya diminta mencelupkan tangan sebagai tanda sudah menerima makanan, tanpa proses verifikasi atau pendataan sebelumnya. Akibatnya, kerumunan warga memadati gerbang barat pendopo dan mulai berdesakan sebelum pintu resmi dibuka.
Begitu gerbang dibuka, massa yang menunggu di bawah terik matahari langsung menyerbu masuk. Kondisi ini menyebabkan kekacauan dan banyak korban terhimpit. Petugas keamanan yang berjaga, termasuk polisi, kewalahan mengatur kerumunan yang terus membludak. Bahkan, salah satu anggota kepolisian turut menjadi korban jiwa dalam insiden tersebut.
Duka dan Permintaan Maaf dari Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bela sungkawa mendalam atas insiden ini. Ia mengaku tidak mengetahui adanya acara makan bersama warga di siang hari itu, dan menyebut bahwa dirinya hanya dijadwalkan hadir dalam gelar budaya pada malam harinya.
“Saya menyampaikan permohonan maaf atas nama keluarga dan juga secara pribadi. Saya telah meminta staf untuk menyampaikan santunan kepada keluarga korban sebesar Rp150 juta per orang,” ujar Dedi dalam pernyataan resminya.
Kegiatan Dihentikan, Evaluasi Diharapkan
Setelah insiden terjadi dan diketahui adanya korban jiwa, kegiatan pesta rakyat langsung dihentikan sekitar pukul 15.00 WIB. Aktivitas persiapan acara gelar seni malam harinya juga dikabarkan masih menunggu keputusan lebih lanjut dari pihak penyelenggara.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Garut maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait siapa yang menjadi penanggung jawab utama atas kegiatan pesta rakyat tersebut. Sementara itu, pihak kepolisian Garut masih melakukan penyelidikan mendalam.
Penanganan Darurat Terhambat Kepadatan
Meski tim medis dan ambulans telah disiagakan sejak pagi hari, petugas kesulitan mengevakuasi korban akibat padatnya massa. Beberapa warga yang hanya berniat berdagang di lokasi pun turut menjadi korban karena terjebak dalam lautan manusia yang tidak terkontrol.
Insiden ini menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara kegiatan besar agar lebih memperhatikan aspek keselamatan, sistem antrean, dan manajemen massa untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.
Catatan Redaksi:
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa kemeriahan acara publik, apalagi yang melibatkan ribuan warga, harus diimbangi dengan sistem pengamanan, manajemen kerumunan, dan kesiapan medis yang memadai. Evaluasi menyeluruh sangat dibutuhkan agar nyawa tak kembali menjadi korban dalam pesta yang seharusnya penuh kebahagiaan.





