Nama Tengku Qori kembali menjadi sorotan setelah kabar wafatnya menyebar luas di berbagai platform media sosial. Banyak pihak merasa terkejut karena sebelumnya ia masih terlihat aktif dalam siaran langsung dan diskusi daring. Tidak sedikit yang mengaku baru melihatnya berbicara beberapa jam sebelum berita duka itu muncul.
Kondisi tersebut membuat publik bertanya-tanya. Bagaimana mungkin seseorang yang tampak sehat bisa meninggal secara tiba-tiba? Dalam situasi penuh emosi seperti ini, masyarakat sering mencari penjelasan yang dapat memberi makna atas kehilangan. Dari sinilah muncul berbagai dugaan, termasuk narasi yang menyebut bahwa kematian Tengku Qori berkaitan dengan kualat.
Isu ini berkembang dengan cepat karena Tengku Qori dikenal sebagai sosok yang kerap terlibat dalam perdebatan sensitif mengenai nasab dan otoritas keagamaan. Pandangannya sering memicu reaksi keras, baik dari pendukung maupun penentang.
Sosok Tengku Qori dalam Pusaran Kontroversi
Tengku Qori bukanlah figur yang netral di mata publik. Ia pernah menyuarakan dukungan terhadap sebuah tesis yang mengkritisi klaim nasab tertentu. Dalam periode berikutnya, ia justru terlihat mendekat kepada pihak yang sebelumnya ia kritik. Perubahan sikap ini membuat sebagian orang menganggapnya tidak konsisten.
Di tengah perjalanan itu, muncul cerita mengenai dukungan materi maupun simbolik yang dikaitkan dengannya. Namun, semua itu tidak pernah disertai bukti yang benar-benar dapat diverifikasi. Yang jelas, pergerakan sikapnya yang berubah-ubah membuat namanya semakin sering diperbincangkan.
Ketika akhirnya ia kembali mengkritik pihak yang sempat didukung, perdebatan pun kembali memanas. Tidak mengherankan jika setelah wafatnya, polemik lama kembali diungkit dan dipadukan dengan narasi baru yang bernuansa spiritual.
Gelombang Spekulasi dan Tuduhan Kualat
Seiring beredarnya kabar duka, kolom komentar dipenuhi berbagai opini. Ada yang menyebut bahwa kematian Tengku Qori adalah akibat dari tindakannya terhadap figur-figur tertentu. Ada pula yang menyatakan bahwa ia menerima balasan atas sikap yang dianggap “berpindah-pindah kubu”.
Namun, menyimpulkan sebab kematian berdasarkan dugaan spiritual tanpa dasar yang jelas adalah tindakan yang berisiko. Tidak ada satu pun manusia yang dapat memastikan alasan di balik ajal seseorang. Mengaitkannya dengan kualat hanya akan memperpanjang konflik dan menambah beban bagi keluarga yang sedang berduka.
Kematian sebagai Ketetapan yang Tidak Terduga
Dalam kehidupan, banyak peristiwa yang sulit dijelaskan secara logis. Ada orang yang hidup lama meski menderita penyakit berat, sementara yang lain berpulang saat terlihat sehat. Hal ini menunjukkan bahwa kematian tidak selalu berkaitan dengan kondisi fisik atau peristiwa tertentu yang tampak di permukaan.
Menghubungkan kematian seseorang dengan hukuman atas perbuatannya justru menutup ruang empati. Padahal, setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang kompleks, penuh kesalahan, perubahan, dan pencarian.
Mengedepankan Sikap Bijak dan Tidak Menghakimi
Dalam situasi seperti ini, penting bagi masyarakat untuk menahan diri. Menyebarkan dugaan tanpa dasar sama saja dengan membangun opini yang bisa melukai pihak lain. Sikap yang lebih bijak adalah menghormati almarhum, mendoakan kebaikan, dan memberikan ruang bagi keluarga untuk berduka dengan tenang.
Perbedaan pandangan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghapus rasa kemanusiaan. Menghormati seseorang yang telah berpulang tidak berarti menyetujui seluruh sikapnya semasa hidup.
Kesimpulan
Wafatnya Tengku Qori menyisakan duka sekaligus polemik. Namun, mengaitkan kematiannya dengan kualat atau tuduhan lain tanpa bukti hanya akan memperkeruh suasana. Lebih baik kita mengambil pelajaran untuk tidak mudah menghakimi, menjaga lisan, dan mengedepankan empati. Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta, dan yang tersisa adalah doa serta kenangan.





